Untitled Document
Untitled Document
Pekanbaru » Posting » EkBis & Manajemen
Bukan Cappuccino oh Cappuccino(lagi) - Bungo Galeh(1)
Tutor by: Menhard dibaca:4861 kali, Posted on 2012-03-29 09:02:54



Bukan Cappuccino oh Cappuccino (lagi) – Bungo Galeh…. ( 1 )

 

Tentu kita masyarakat Pekanbaru tidak asing lagi dengan buah duku. Dewasa ini buah duku lumayan banyak di jual, di pinggir beberapa ruas jalan tertentu. http://id.wikipedia.org/wiki/ menyebutkan Duku adalah nama umum dari sejenis buah-buahan anggota suku Meliaceae. Tanaman yang berasal dari Asia Tenggara sebelah barat ini dikenal pula dengan nama-nama yang lain seperti  langsat, kokosan, pisitan, celoring dan lain-lain dengan pelbagai variasinya. Nama-nama yang beraneka ragam ini sekaligus menunjukkan adanya aneka kultivar yang tercermin dari bentuk buah dan pohon yang berbeda-beda.

Lebih lanjut id.wikipedia.org menjelaskan bahwa sebetulnya penghasil utama duku ini bukanlah Kota Palembang, melainkan daerah Komering (Kabupaten OKU dan OKI) serta beberapa wilayah lain yang berdekatan di Sumatera Selatan. Tempat lain yang juga menghasilkannya adalah kawasan Kumpeh, Muaro Jambi, Jambi. Duku dari wilayah-wilayah ini dipasarkan ke pelbagai daerah di Sumatera dan Jawa, dan bahkan diekspor. Duku adalah tumbuhan identitas untuk Provinsi Sumatera Selatan. Masyarakat luas mengenal duku dengan sebutan “Duku Palembang”.

 

Penjual Duku, http://lampung.tribunnews.com/2012/02/25/

 

Setelah kita mengenal serba sedikit mengenai duku, mari kita mencermati sedikit juga mengenai duku dalam perdagangan sesuai dengan tema tulisan ini. Pernahkah anda memperhatikan penjual duku dalam menata dagangan dan menjual dukunya?  Secara sengaja atau tidak sengaja mungkin pernah.

Jika kita perhatikan, duku yang dijual pada dasarnya berbeda ukurannya, hal ini tentu wajar karena buah yang dihasilkan pohon juga tidak sama besar. Agar menarik, maka buah duku dipajang penjual dan yang langsung nampak dihadapan kita adalah dalam ukuran yang hampir sama besar, sehingga menarik untuk dipandang dan menimbulkan kesan buah yang ditawarkan adalah besar-besar semua.

Jika kita berminat dan ingin membeli, tidak diberikan kesempatan untuk memilih. Tidak dibenarkan memilih buah yang akan dibeli dengan cara mengambil buah per buah (di pilih). Penjual langsung mengambilkan secara acak, dengan piring/alat penyedok untuk dimasukkan ke dalam pembungkus untuk di timbang. Ketika Saya tanya, “apakah tidak boleh dipilih buahnya, Da?”. Dari bahasanya saya tau bahwa penjual adalah orang Minang makanya saya panggil dengan sebutan “Da”  atau Uda alias Abang. Dijawab memang tidak boleh dipilih, karena kalau dipilih tentu sisanya nanti sulit menjualnya (buah yang tinggal tentu kecil-kecil ukurannya).

Ketika saya meminta supaya dia menyendok/mengambil duku bahagian depan meja pajangannya (yang besar-besar), dia menyebut itu akan dijual terakhir saja. Katanya itu sebagai “Bungo Galeh” (pemanis dagangan/penarik perhatian/primadona dagangan. Penulis). Ohh begitu to…



 



Loading...
 Komentar Lainnya (13)

Nama : Email : Blog/Web :

:D :P ;;> ;) :) :O :: =s :g :-? :@ :-)) :-bd I-) B-) ):b :-/ :o:
:x =D> :-)/\:-) =)) @_@ o|^_^|o

Untitled Document